Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 “ROBOHNYA LUMBUNG KAMI” Merawat Kembali Lumbung Pangan dan Budaya Gotong Royong Indonesia

Foodbank of Indonesia (FOI) dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Ilmu Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI) memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2026 pada 20 Mei 2026 dengan menyelenggarakan Rembug Pangan Indonesia (RPI) bertajuk “Robohnya Lumbung Kami : Merawat Kembali Lumbung Pangan dan Budaya Gotong Royong Indonesia” d Fakultas llmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Hadir dalam Rembug Pangan Indonesia Adalah para pakar dari berbagai disiplin ilmu.

Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Foodbank of Indonesia Bersama PPKB FIB UI dimaksudkan sebagai ruang refleksi nasional atas persoalan pangan Indonesia yang semakin kompleks, bukan hanya dari sisi produksi dan distribusi, tetapi juga dari memudarnya budaya kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas pangan di tengah masyarakat. Forum ini mengangkat kegelisahan atas lumbung pangan Indonesia yang sesungguhnya tidak hanya roboh secara fisik, tetapi juga secara sosial dan budaya. Dahulu, lumbung pangan menjadi simbol ketahanan komunitas, tempat masyarakat saling menjaga kehidupan bersama. Budaya menanam bersama, memasak bersama, berbagi hasil panen, hingga memastikan tetangga tidak kelaparan dan kekurangan pangan merupakan kekuatan bangsa yang diwariskan turun-temurun.

Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S. menyampaikan sebagai institusi ilmu pengetahuan budaya, FIB UI memandang bahwa pengetahuan pangan lokal, tradisi memasak, budaya makan bersama, hingga praktik gotong royong dalam masyarakat merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dijaga bersama. Forum seperti Rembug Pangan Indonesia menjadi sangat penting karena mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, organisasi sosial, hingga lembaga internasional untuk duduk bersama memikirkan masa depan pangan Indonesia secara lebih menyeluruh.

Menurut pendiri FOI, M. Hendro Utomo, modernisasi dan perubahan gaya hidup di masa kini perlahan mengikis nilai-nilai tersebut. Dapur keluarga kehilangan perannya sebagai ruang kebersamaan, tradisi berbagi makanan mulai memudar, sementara kemubaziran pangan terus meningkat di tengah banyaknya masyarakat yang masih kesulitan memperoleh pangan layak dan bergizi. “Melalui forum ini, para akademisi, pegiat sosial, komunitas, generasi muda dan berbagai pemangku kepentingan diajak untuk membangun kembali kesadaran bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi bagian penting dari identitas budaya, kearifan lokal dan peradaban bangsa Indonesia,” jelas Hendro.

Kepala PPKB FIB UI, Dr. Ahmad Fahrurodji, S.S., M.A. menyampaikan bahwa permasalahan pangan erat kaitannya dengan perspektif dan cara pandang masyarakat yang perlu diperbaiki, bahwa pangan tidak bisa dilepaskan dari budaya. Dalam hal ini, tradisi yang sudah dilalui para nenek moyang kita sepertinya mulai dilupakan. Pola interaksi dengan alam dalam bercocok tanam telah menghidupi mereka selama berabad-abad. Warisan budaya takbenda yang sangat kaya yang dimiliki bangsa Indonesia, jika diteliti akan menjadi sumber bagi kekuatan pangan kita. Untuk itu, kita berharap forum ini dapat membangkitkan semangat dalam menggali nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang sudah kita miliki agar dapat mendukung bangsa Indonesia mencapai kemandirian pangan.

Dalam Rembug Pangan Indonesia ini, sejumlah pokok gagasan dan rekomendasi disampaikan sebagai pemantik gerakan sinergis bersama. Kunci dari lumbung pangan sebagai simbol ketahanan pangan dibangun melalui semangat solidaritas sosial dan kebersamaan masyarakat yang harus kembali dikuatkan. Peningkatan kesadaran ini dapat dimulai dari dapur keluarga sebagai ruang pendidikan, pengetahuan, dan kebersamaan yang perlu dihidupkan kembali dengan melibatkan generasi muda dalam budaya pangan Nusantara. Budaya pangan tersebut tidak lepas dari kekayaan pangan lokal Indonesia yang sangat beragam, sehingga penting untuk menjaga dan menguatkan diversifikasi pangan melalui pemberdayaan pasar tradisional dan UMKM pangan lokal, serta promosi pangan Nusantara sebagai identitas budaya bangsa.

Ketua Pergizi Pangan dan Guru Besar IPB, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, M.S, menyampaikan bahwa untuk menerapkan konsep lumbung pangan, kita dapat belajar dari masyarakat yang berhasil menghadapi krisis pangan karena mereka dapat memanfaatkan sumber pangan yang ada di sekitar dengan baik. Oleh karena itu, pangan lokal dengan keberagamannya perlu dihadirkan kembali dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya generasi muda. Anak-anak bukannya tidak menyukai makanan lokal, namun perlu diperkenalkan terlebih dahulu. Disinilah pentingnya peran keilmuan budaya, bagaimana kita bisa memperkenalkan dan mengantarkan citarasa Nusantara tersebut kepada generasi penerus.

Gerakan sosial berbasis komunitas juga menjadi perwujudan kepedulian antara anggota masyarakat. Menghadapi kemubaziran pangan yang terus menerus, Foodbank of Indonesia telah mempelopori gerakan redistribusi pangan melalui kolaborasi dengan hotel, restoran, retail, komunitas untuk membuka akses pangan bagi Masyarakat yang membutuhkan, yang perlu diperkuat dan disertai dengan edukasi publik dan inovasi pengolahan pangan berlebih.

Dalam pandangan jangka panjang, ketahanan pangan nasional akan terjaga secara berkelanjutan jika ditopang oleh kekuatan masyarakat, yang dapat dioptimalkan melalui pengembangan urban farming, kebun keluarga, koperasi petani, dan kolaborasi lintas sektor yang berbasis komunitas.

Oleh karena itu, pangan harus ditempatkan sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa. Peran akademisi erat untuk menginisiasi proses dokumentasi pengetahuan pangan lokal, kolaborasi antara perguruan tinggi serta institusi akademik dan komunitas budaya, serta pembangunan gerakan nasional sebagai ajakan untuk mencintai pangan Indonesia.

 

Ketua penyelenggara Rembug Pangan Indonesia, Wida Septarina, menyampaikan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif bangsa mengenai pentingnya budaya gotong royong pangan sebagai fondasi ketahanan sosial Indonesia. Lumbung yang paling penting bukan hanya yang tersimpan di gudang, tetapi yang hidup di hati masyarakat: rasa peduli, budaya berbagi, dan semangat menjaga sesama agar tidak ada yang kelaparan.

Melalui kegiatan ini, Foodbank of Indonesia bersama PPKB FIB UI berharap lahir gerakan bersama lintas generasi untuk merawat kembali lumbung pangan Indonesia sebagai rumah kebudayaan gotong royong bangsa. (CAZ & Tim PPKB FIB UI)

 

Related Posts