Diskusi Riset Gambar Cadas Tertua di Dunia Ada di Indonesia

Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan Diskusi Riset bertajuk “Gambar Cadas Tertua di Dunia” pada Selasa, 3 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung IV FIB UI, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, sekaligus disiarkan melalui Zoom Meeting.

Diskusi riset ini menghadirkan Dr. Adhi Agus Oktaviana dari Pusat Riset Arkeometri, Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai narasumber tunggal. Dalam forum ini, Dr. Adhi memaparkan hasil risetnya mengenai gambar cadas di Indonesia, khususnya temuan hand stencil di wilayah Sulawesi yang kini diakui sebagai gambar cadas tertua di dunia, melampaui temuan serupa dari Eropa.

Acara dibuka oleh Ketua Departemen Arkeologi FIB UI, Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa capaian ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan buah dari penelitian panjang selama lebih dari satu dekade. Mulai dari gambar cadas berusia 40.000 tahun, hingga kini yang terbaru mencapai lebih dari 60.000 tahun lalu. Ini adalah kebanggaan nasional. Beliau juga menyampaikan bahwa Dr. Adhi merupakan alumnus Arkeologi FIB UI yang telah membawa nama besar almamaternya ke panggung global.

Prof. Dr. Cecep turut mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan lagi sekadar “adu usia” antartemuan, melainkan bergeser pada upaya memahami karakteristik unik dan kekhasan gaya seni masing-masing gambar cadas. Perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemerintah, menurutnya, kini harus bersama-sama memperkuat aspek pelestarian situs.

Sesi pemaparan dipandu oleh Asri Hayati Nufus, M.Hum., dari Departemen Arkeologi FIB UI. Dr. Adhi mengajak para peserta menelusuri perkembangan dan persebaran gambar cadas di Indonesia, mulai dari Sulawesi yang menyimpan temuan tertua, berlanjut ke Kalimantan, Maluku, Papua, hingga Sumatra yang memiliki gambar cadas dengan usia relatif lebih muda.

Salah satu temuan paling signifikan yang dipaparkan adalah hand stencil dari Leang Metanduno di Sulawesi, yang melalui metode Laser-Ablation Uranium-series (LA-U-series) imaging berhasil ditanggal berusia 67.800 tahun lalu. Temuan ini menjadikannya gambar cadas tertua yang pernah ditemukan di dunia. Selain itu, beberapa situs lain di Sulawesi juga mencatat rekor tersendiri: Leang Karampuang dengan gambar naratif tertua yang menggambarkan interaksi manusia dan babi hutan berusia minimal 51.200 tahun; adegan berburu tertua di Leang Bulu Sipong 4 berusia minimal 50.200 tahun; serta lukisan babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) di Leang Tedongnge berusia 45.500 tahun. Dari Kalimantan, Leang Jeriji Saleh menyimpan lukisan hewan tertua berusia minimal 40.000 tahun, sementara Liang Tebo mengungkap kerangka manusia purba dengan bukti amputasi bedah tertua di dunia yang dilakukan sekitar 31.000 tahun lalu.

Berbagai temuan ini mendukung teori bahwa manusia modern (Homo sapiens) telah memiliki budaya seni yang kompleks ketika melakukan perjalanan maritim menuju Sahul sekitar 65.000 tahun lalu. Selain seni Pleistosen yang tua, Indonesia juga memiliki Tradisi Lukisan Austronesia yang lebih muda, dengan ciri pigmen kecoklatan dan motif figuratif seperti gambar kapal, yang berasal dari rentang waktu sekitar 4.000 hingga 300 tahun lalu.

 

Di penghujung pemaparannya, Dr. Adhi menekankan beberapa agenda penting yang masih perlu dikerjakan antara lain penanggalan ulang terhadap temuan-temuan sebelumnya, eksplorasi di wilayah-wilayah yang belum terjamah, serta pelestarian aktif terhadap situs-situs yang sudah ada dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat.

Diskusi berlanjut dengan sesi tanya jawab yang berlangsung antusias. Para peserta, baik yang hadir secara luring maupun daring, mengajukan beragam pertanyaan seputar metode penanggalan, jenis-jenis gambar cadas, kemungkinan temuan di wilayah lain, hingga pertanyaan tentang ada atau tidaknya gambar cadas di Pulau Jawa yang hingga kini belum ditemukan.

Melalui penyelenggaraan diskusi riset ini, FIB UI melalui Departemen Arkeologi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong perguruan tinggi sebagai ruang publikasi dan diskusi bagi riset-riset terdepan, sekaligus sebagai institusi yang aktif memperkuat pengetahuan publik tentang peradaban leluhur bangsa Indonesia. (Departemen Arkeologi)

 

Related Posts