Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) kembali meluluskan seorang doktor baru dalam bidang Ilmu Sejarah yang membawa kontribusi penting bagi sejarah politik-budaya kontemporer. Pada Kamis, 9 Juli 2026, bertempat di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung Hoesein Djajadiningrat lantai 1 FIB UI, sidang promosi doktor telah berlangsung dengan khidmat. Sidang akademik ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar, S.S., M.Hum. selaku Ketua Sidang, dan Adhitya M. Maheswara berhasil mempertahankan disertasinya serta meraih gelar Doktor dengan predikat “Sangat Memuaskan”. Ia secara resmi tercatat sebagai lulusan S3 ke-497 dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sekaligus menjadi lulusan ke-7 dari Program Studi Ilmu Sejarah pada tahun 2026.
Disertasi tingkat doktoral yang diuji tersebut berjudul “Strategi Pemerintah Amerika Serikat dalam Pembingkaian Agenda Perang Melawan Teror Pasca-Serangan 9/11 (2001-2010)”. Penelitian komprehensif ini dibimbing oleh Prof. Dr. Zeffry, S.S., M.Si. selaku Promotor bersama Agus Setiawan, S.S., M.Si., Ph.D. selaku Kopromotor. Bertindak sebagai Dewan Penguji dalam sidang promosi ini adalah Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum. selaku Ketua Tim Penguji, dengan anggota tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. R. Tuty Nur Mutia, S.S., M.Hum., Dr. Yuda Benharry Tangkilisan, S.S., M.Hum., Dr. Dwi Mulyatari, S.S., M.A., dan Dr. Iwan Gunawan, S.Sn., M.Si. Di hadapan dewan penguji, Dr. Adhitya M. Maheswara berhasil memaparkan rekonstruksi historis mengenai bagaimana sebuah agenda politik luar negeri ditenun secara sistematis melalui media hiburan.

Kajian ini membongkar bahwa Serangan 11 September 2001 merupakan titik balik krusial politik luar negeri Amerika Serikat yang melahirkan agenda War on Terror di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush. Alih-alih hanya mengandalkan jalur birokrasi konvensional, institusi pemerintah dan militer AS memanfaatkan hubungan historis jangka panjang mereka dengan industri hiburan untuk menyebarluaskan narasi politik. Menggunakan metode sejarah kritis, penelitian ini merekonstruksi upaya pembingkaian (framing) yang sengaja dibangun demi menciptakan keterkaitan naratif yang kuat antara Serangan 9/11, Osama bin Laden, Saddam Hussein, urgensi invasi Irak, hingga isu krusial mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal.

Temuan utama penelitian ini menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat memanfaatkan trauma kolektif pasca-serangan untuk memobilisasi dukungan publik domestik maupun global terhadap intervensi militer di Afghanistan dan Irak. Melalui pisau analisis teknik propaganda Randal Marlin, representasi Stuart Hall, dan memori kolektif Maurice Halbwachs, disertasi ini membuktikan bagaimana film Hollywood dan gim video militeristik bekerja efektif sebagai instrumen propaganda untuk mengunci rasa patriotisme dan melegitimasi agresi. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai militainment—sebuah perpaduan pekat antara industri hiburan dan militerisme yang secara masif mendikte arus persepsi publik dunia terhadap citra Muslim dan dunia Arab di era modern. (AR)




