Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) kembali meluluskan seorang doktor baru dari program S3 yang memberikan kontribusi ilmiah penting bagi dunia seni pertunjukan tradisional Indonesia. Pada sidang promosi doktor yang berlangsung khidmat pada Sabtu, 4 Juli 2026 dengan dipimpin langsung oleh Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., Dr. Nursilah berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih gelar Doktor dengan predikat “Sangat Memuaskan”. Ia secara resmi tercatat sebagai lulusan S3 ke-493 dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sekaligus menjadi lulusan S3 ke-12 dari Program Studi Ilmu Susastra yang lulus pada tahun 2026.
Sidang promosi doktor ini menguji disertasi tingkat doktoral yang berjudul “Transformasi Estetika Seni Reyog Ponorogo dalam Proses Kreatif Tiga Grup Reyog di Arena Festival Nasional Reyog Ponorogo”. Penelitian komprehensif ini dibimbing oleh Shuri Mariasih Gietty, S.Hum., M.A., Ph.D. selaku Promotor, bersama Dr. Turita Indah Setyani, S.S., M.Hum. selaku Ko-Promotor 1, dan Dr. M. Yoesoef, S.S., M.Hum. selaku Ko-Promotor 2. Bertindak sebagai dewan penguji yang memberikan masukan serta tinjauan kritis dalam sidang ini adalah Dr. Syahrial, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Darmoko, S.S., M.Hum., Dr. Ari Prasetiyo, S.S., M.Si., dan Tommy Christomy SSA, A.Md., S.S., M.Hum., Ph.D.
Dalam disertasinya, Dr. Nursilah secara tajam membedah fenomena pergeseran ruang sosial dan transformasi estetika kesenian Reyog Ponorogo, yang semula berwujud komunal tradisional di lingkungan agraris pedesaan beralih menjadi seni pertunjukan kompetitif di atas panggung prosenium melalui pelembagaan Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP). Penelitian kualitatif bermetode studi kasus berganda ini meneliti proses kreatif dari tiga kelompok dengan basis sosiologis yang berbeda, yaitu Grup Gajah Manggolo (representasi institusi sekolah SMAN 1 Ponorogo), Grup Kawulo Bantarangin (representasi komunitas agraris pedesaan Kauman Somoroto), dan Grup Bantarangin Jakarta (representasi paguyuban diaspora urban metropolitan Jakarta). Penyelidikan ini menyilangkan dua teori utama, yakni Teori Performativitas Seni Richard Schechner untuk melihat jalinan efikasi tradisi dan hiburan panggung, serta Teori Arena Produksi Kultural Pierre Bourdieu untuk menganalisis relasi kuasa, ketegangan habitus ketubuhan, serta kontestasi akumulasi modal di balik kemegahan festival.

Temuan utama dari penelitian ini membuktikan bahwa pembatasan durasi tampil maksimal 20 menit dan standardisasi kaku dari rubrik kriteria penilaian juri telah bekerja sebagai instrumen kekuasaan simbolik yang memaksa para koreografer melakukan rekayasa performatif secara ekstrem. Transformasi tersebut mewujud nyata melalui hibriditas teknik gerak tradisi dengan elemen tari modern Barat (seperti fall and recovery, split, salto, dan plié), pemadatan aransemen musik iringan, manajemen pola lantai prosenium yang matematis, hingga dekonstruksi struktur narasi linear menjadi desain dramatik bertegangan tinggi seperti penggunaan teknik alur sorot balik (flashback) sejak menit pertama. Lebih lanjut, analisis arena membongkar realitas ketidaksetaraan ruang kompetisi akibat ketimpangan modal ekonomi. Grup Bantarangin Jakarta mendominasi aspek visual kolosal lewat kapitalisasi dana finansial raksasa untuk membeli modal budaya berupa paket garapan koreografer profesional Ponorogo demi mengatasi defisit ingatan tubuh diaspora. Grup Gajah Manggolo mengandalkan kedisiplinan kelembagaan formal persekolahan untuk mencapai presisi teknik dan formasi panggung yang rapi.

Kebaruan (novelty) akademis yang dihadirkan oleh Dr. Nursilah dalam sosiologi seni pertunjukan Nusantara terletak pada formulasi konsep “Modal Rasa” (Capital of Sensibility) sebagai perluasan teoretis atas konsep modal budaya Bourdieu yang selama ini bias terhadap kriteria kelas borjuis formal atau sertifikasi akademis Barat. Konsep Modal Rasa ini merujuk pada kepekaan estetik, sensibilitas lokalitas (sense of locality), kedalaman penjiwaan karakter (mat-matan), dan insting kesenian organik yang terbentuk secara lisan dalam memori tubuh para pelaku seni pedesaan di lingkungan kultural asal Ponorogo. Namun, penelitian ini membuktikan bahwa Modal Rasa milik kelompok lokal desa seperti Kawulo Bantarangin pada akhirnya rentan mengalami kooptasi dan komodifikasi oleh para pemegang modal ekonomi tinggi melalui mekanisme transaksi kepelatihan komersial. Melalui pencapaian gelar doktor ini, disertasi Dr. Nursilah diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis interdisipliner yang menjembatani analisis teks estetika tari dengan sosiologi arena, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pemangku kebijakan untuk menciptakan tata kelola festival kebudayaan yang lebih berkeadilan bagi para seniman tradisi akar rumput. (AR)




