Pada tanggal 15–17 Mei 2026, kegiatan World Class University (WCU) di Baduy dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara Universitas Indonesia, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam melalui Akademi Pengajian Bahasa, serta UiTM Cawangan Pahang, Kampus Jengka. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara dunia akademik, pengetahuan lokal, dan upaya penguatan promosi kain tenun tradisional Baduy berbasis humaniora digital. Fokus utama kegiatan bukan hanya memperkenalkan tenun sebagai produk kerajinan, tetapi juga menghadirkan cerita, makna budaya, dan nilai hidup masyarakat Baduy yang tersimpan di balik setiap helai kain.
Program ini diketuai oleh Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana dari Departemen Arkeologi FIB UI bersama tim kolaboratif dari Universitas Indonesia dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Tim tersebut terdiri atas Dr. Syahrial, Muhammad Prabu Wibowo, Dr. Badli Esham Ahmad, Dr. Muhammad Zaidi Zakaria, Hapsari Setyowardhani, serta mahasiswa kolaborator dari UiTM yaitu Muhammad Al-Ameen, Nabilah Nur Fatiha, Nur Dania Umairah Joha, Siti Nurba’ayah, dan Universitas Indonesia Khalila Putri Fajri (S1), Marno Sunarya (S1), dan Argi Arafat (S3).
Gambar 2. Mahasiswa Universitas sedang melihat proses pembuatan tenun Baduy oleh Ambu Misnah
Pada 15–16 Mei 2026, tim dari Universitas Indonesia dan UiTM mengikuti kegiatan lapangan untuk mengenal lebih dekat tradisi tenun Baduy. Dengan penuh antusias, para mahasiswa melakukan wawancara dengan Ambu Misnah, seorang penenun Baduy yang memiliki pengalaman dan pengetahuan mendalam mengenai proses menenun. Melalui pertemuan ini, mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pembuatan kain, tetapi juga memahami bahwa tenun Baduy lahir dari ketekunan, keterampilan, dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan lapangan juga diisi dengan dokumentasi alat tenun tradisional Baduy dan berbagai jenis kain tenun beserta namanya. Para mahasiswa mencatat, memotret, dan mengenali satu per satu alat yang digunakan dalam proses menenun, termasuk fungsi dan perannya dalam menghasilkan kain. Dokumentasi ini menjadi langkah penting untuk menyusun informasi yang lebih rapi dan mudah dipahami oleh publik. Dengan cara ini, tenun Baduy dapat diperkenalkan tidak hanya melalui keindahan visualnya, tetapi juga melalui proses, teknik, nama, fungsi, dan cerita budaya yang menyertainya.

Gambar 3. Kegiatan FGD bersama Dinas Pariwisata Kota Serang
Pada 17 Mei 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Pariwisata Serang. Forum ini membahas pengembangan kain tenun Baduy agar memiliki nilai jual yang lebih bermakna. Promosi tenun Baduy tidak diarahkan sekadar sebagai aktivitas jual beli, tetapi juga sebagai upaya membangun brand story atau narasi budaya. Setiap kain perlu hadir dengan cerita tentang cara pembuatannya, makna penggunaannya, nilai kesederhanaan masyarakat Baduy, serta identitas budaya yang melekat di dalamnya. Dengan narasi yang kuat, kain tenun Baduy dapat dipahami sebagai karya budaya yang bernilai, bukan sekadar produk pasar.
Melalui kegiatan WCU ini, kolaborasi antara UI, UiTM, masyarakat Baduy, dan Dinas Pariwisata Serang diharapkan mampu membuka ruang baru bagi pengembangan tenun Baduy. Setiap helai kain membawa cerita tentang tangan yang menenun, tradisi yang dijaga, dan budaya yang terus hidup. Dari Baduy, tenun tidak hanya dijual, tetapi juga diceritakan, dimaknai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Argi Arafat dan Khalila Putri Fajr)




