Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) melalui Laboratorium Sejarah kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik internasional dengan sukses menyelenggarakan diskusi akademik dalam rangka Seri Bincang Sejarah (SBS). Pada kesempatan ini, Departemen Sejarah FIB UI menghadirkan akademisi internasional, Dr. Cristina Preutu dari Faculty of History, Alexandru Ioan Cuza University of Iași, Romania. Kuliah umum yang berlangsung selama dua hari, pada 14-15 April 2026, ini mengangkat tema mengenai sejarah serta dinamika politik Romania dalam konteks global, sekaligus membuka ruang dialog akademik lintas negara yang memperkaya wawasan sivitas akademika. Kegiatan bertempat di di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung IV Hoesein Djajadiningrat.
Ketua Departemen Sejarah Universitas Indonesia, Dr. Didik Pradjoko, S.S., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Cristina Preutu yang telah berkenan berbagi pengetahuan serta membuka peluang kerja sama akademik antara Universitas Indonesia dan Alexandru Ioan Cuza University of Iași.
Kuliah umum hari pertama yang dilaksanakan pada 14 April 2026 mengangkat judul “Romania, a Country of Europe: Shaping the Nation through History.” Dalam pemaparannya, Dr. Cristina Preutu memperkenalkan Romania sebagai negara di kawasan Eropa Timur yang memiliki sejarah panjang, dengan perkembangan peradaban yang telah berlangsung sekitar 1,5 juta tahun. Ia juga menjelaskan bahwa bahasa Romania termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa dan merupakan bagian dari cabang timur bahasa Roman, bersama dengan bahasa Italia, Prancis, Spanyol, Portugis, dan bahasa Roman lainnya. Dr. Preutu juga memaparkan bahwa Rumania merupakan negara di Eropa Timur dengan karakter unik sebagai jembatan antara dunia Barat dan Timur. Identitas nasional Rumania terbentuk dari akar budaya Latin yang kuat serta tradisi Ortodoks yang telah berkembang selama berabad-abad. Secara politik, Rumania saat ini menganut sistem republik semi-presidensial dan telah menjadi bagian dari Uni Eropa sejak 2007.

Dalam perspektif sejarah, Romania menunjukkan dinamika yang kuat dalam pembentukan negara modern. Pada abad ke-16 hingga ke-18, masyarakat Romania aktif menjalin perdagangan dan hubungan diplomatik dengan Eropa Tengah, serta mulai terbuka terhadap pengaruh intelektual Barat seperti Renaisans, Reformasi, dan Pencerahan. Pada abad ke-19, Romania mengikuti model Barat dalam pembentukan negara modern. Penyatuan modern pertama dua provinsi Romania terjadi pada tahun 1859 di bawah kepemimpinan Alexandru Ioan Cuza, yang kemudian melakukan berbagai reformasi administrasi negara. Selanjutnya, Dr. Cristina juga menjelaskan bahwa Romania memperoleh kemerdekaan pada tahun 1877 setelah perang antara Kekaisaran Tsar Rusia dan Kesultanan Ottoman. Sejak 1881, Romania menjadi kerajaan yang dipimpin oleh Raja Carol I. Keluarga kerajaan Romania memiliki hubungan erat dengan berbagai kerajaan di Eropa, yang turut memperkuat posisi Romania dalam percaturan politik internasional.
Pada masa Perang Dingin, Romania mengalami perubahan besar ketika pada tahun 1948 negara tersebut berubah menjadi Republik Rakyat Romania yang berada di bawah pengaruh Uni Soviet. Namun, setelah kematian Stalin dan munculnya détente dalam blok komunis, Romania mulai mengembangkan jalur politik yang lebih independen, termasuk memperluas hubungan ekonomi dan budaya dengan negara-negara Barat. Periode 1960-1970-an ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, meskipun peningkatan kesejahteraan masyarakat berlangsung lebih lambat. Perubahan besar terjadi pada tahun 1989 ketika rezim komunis di Romania runtuh melalui revolusi berdarah, yang kemudian membawa negara tersebut menuju sistem demokrasi liberal.
Selain pemaparan sejarah, Dr. Cristina Preutu juga menyampaikan rencana penjajakan kerja sama akademik antara Universitas Indonesia dan Alexandru Ioan Cuza, University of Iași, termasuk peluang pertukaran akademik, riset bersama, dan kolaborasi ilmiah lainnya.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar dinamika identitas nasional, posisi geopolitik Rumania, hingga relevansinya dalam studi hubungan internasional kontemporer. Diskusi ini semakin memperkaya pemahaman peserta terhadap kompleksitas sejarah dan politik Rumania.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai sejarah dan dinamika politik Rumania, sekaligus melihat bagaimana proses historis membentuk identitas nasional dan arah kebijakan suatu negara.
Di akhir sesi, dilakukan pemberian penghargaan simbolis kepada narasumber oleh Ketua Departemen Program Studi Sejarah, Dr. Didik Pradjoko, M.Hum., sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam berbagi pengetahuan dan memperkaya wawasan akademik.
Kegiatan Seri Bincang Sejarah ini juga menjadi wadah dialog akademik lintas negara serta membuka peluang kerja sama antara Universitas Indonesia dan Alexandru Ioan Cuza University of Iași. FIB UI berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan guna memperluas wawasan global dan memperkuat kajian sejarah yang relevan dengan perkembangan dunia saat ini. (LS)




