Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) melalui Laboratorium Sejarah sukses menyelenggarakan diskusi akademik Seri Bincang Sejarah (SBS) pada Rabu, 15 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda kuliah umum bersama akademisi eksternal yang telah digelar sejak 14 April 2026. Dengan menghadirkan Dr. Cristina Preutu, Associate Professor Faculty of History Alexandru Ioan Cuza, University of Iasi, Rumania, forum diskusi ini mengeksplorasi dinamika kebijakan luar negeri Rumania yang dikenal vokal dan independen di tengah jepitan blok ideologi besar dunia. Bertempat di Ruang Auditorium Tjan Tjo Som, Gedung IV FIB UI, Dr. Cristina Preutu memaparkan materi bertajuk Rumania’s Political Detente in the 1960s-1970s: Strategic Dorections in Foreign Policy. Ia menyoroti bagaimana Rumania, meski berada di bawah rezim komunis, berhasil membangun jalan nasional yang berbeda dari dikte Uni Soviet.
Kegiatan ini terbuka untuk berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, dosen, dan khalayak umum yang memiliki minat pada kajian terkait Rumania, Perang Dingin, dan kaitannya dengan negara-negara Eropa lain. Dalam paparannya, Dr. Cristina Preutu menjelaskan bahwa rezim komunis di Rumania tidak didukung oleh sejarah gerakan komunis yang kuat sebelum 1944. Meskipun sempat mengalami fase ketergantungan penuh pada blok komunis dan isolasi dari Barat, titik balik terjadi pada dekade 1960-an. Rumania secara lantang menolak rencana Uni Soviet terkait spesialisasi ekonomi, dan menjadi satu-satunya negara Blok Timur yang tidak memiliki pasukan Uni Soviet di wilayahnya sejak 1958 hingga runtuhnya rezim. “Pada tahun 1964, Rumania mempublikasikan prinsip kebijakan luar negeri yang progresif, menekankan pada penghormatan kedaulatan nasional, non-intervensi, dan kesetaraan hak antarpartai sosialis” urai Dr. Cristina Preutu.

Hal menarik yang memantik diskusi lanjutan dari audiens adalah ulasan tentang peran Rumania sebagai jembatan diplomasi. Rumania aktif menjalin hubungan dengan negara-negara kapitalis dan Dunia Ketiga, di tengah dunia yang sedang terbelah. Dr. Preutu kemudian memaparkan beberapa langkah diplomasi Rumania seperti: menjadi negara komunis pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Jerman Barat (1967), menjadi satu-satunya negara Pakta Warsawa yang mengecam keras invasi ke Cekoslowakia pada 1968, hingga bertindak sebagai perantara diplomatik antara Republik Rakyat Tiongkok dengan Amerika dan Eropa. Keterbukaan ini memungkinkan Rumania mengakses dana dari Komunitas Ekonomi Eropa untuk pembangunan infrastruktur dan teknologi. Hingga awal 1980-an, analis ekonomi mencatat bahwa lebih dari 50% pertukaran ekonomi Rumania dilakukan dengan negara-negara non-komunis.

Agenda SBS ini merupakan bagian dari komitmen Laboratorium Sejarah UI untuk menghadirkan narasi sejarah yang mendalam, dengan menghadirkan berbagai topik aktual dalam kajian sejarah, baik dari perspektif lokal, nasional, internasional. Forum ini menjadi ruang temu yang hangat bagi mahasiswa dan akademisi untuk bertukar gagasan secara langsung dengan para peneliti lintas negara. Menindaklanjuti diskusi tersebut, agenda dilanjutkan dengan sesi rapat kerja sama formal untuk memperkuat hubungan antara Universitas Indonesia dan Dr. Cristina Preutu. Dalam pertemuan ini, perbincangan diarahkan pada penyusunan berbagai skema kolaborasi strategis di masa yang akan datang. Dr. Didik Pradjoko, Ketua Departemen Sejarah FIB UI, menekankan bahwa paparan Dr. Cristina memberikan pelajaran berharga mengenai kedaulatan bangsa dan manuver independen di tengah tekanan geopolitik dunia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi rapat yang juga dihadiri oleh Dr. Junaidi (Manajer Kerja Sama dan Ventura FIB UI) serta Dr. Ahmad Fahrurodji (Kepala PPKB FIB UI), guna mematangkan implementasi kerja sama antar pihak.




