id
id

Kuliah Umum “Dari Kudus ke Bombay dan Kembali ke Jawa lagi: Sastra Keagamaan Islam tentang Hari Kiamat” oleh Prof. Edwin Paul Wieringa

Prof. Edwin Paul Wieringa, seorang Pakar Filologi Indonesia dan Studi Islam dari Universitas Köln Jerman, memberikan kuliah umum di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada hari Rabu, 19 Februari 2020. Kuliah umum ini diselenggarakan di Auditorium Gedung IV FIB UI. Kuliah umum ini mengusung tema “Dari Kudus ke Bombay dan Kembali ke Jawa lagi: Sastra Keagamaan Islam tentang Hari Kiamat”. Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Susastra FIB UI.

Prof. Edwin Paul Wieringa memulai kuliah umumnya dengan menjelaskan tentang definisi Filologi. Menurutnya, Pakar Filologi perlu mengenalkan bidangnya terlebih dahulu, tidak seperti pakar ilmu Biologi, Sosiologi, Psikologi, Antropologi dan lainnya, karena istilah ini kurang dikenal, apalagi Paleografi atau Kodikologi yang merupakan subbagiannya.

Prof. Edwin Paul Wieringa juga menjelaskan tentang Ilmu Filologi yang merupakan Kajian Kuno. Filologi juga merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno. Sebuah teks yang termuat dalam sebuah naskah manuskrip, terutama yang berasal dari masa lampau, seringkali sulit untuk dipahami, tidak karena bahasanya yang sulit, tetapi karena naskah manuskrip disalin berulang-ulang kali. Dengan begini, naskah-naskah banyak yang memuat kesalahan-kesalahan.

Setelah menjelaskan tentang Ilmu Filologi, Prof. Edwin Paul Wieringa menjelaskan tentang Sastra Keagamaan yaitu Sastra Dakwah yang juga bisa disebut juga sebagai Sastra Pesantren. Sastra Dakwah isinya sangat serius dan jauh lebih penting daripada estetika (keindahan). Pesan di dalamnya sangat diutamakan. Di dalam sastra tersebut ada dua hal yang selalu ditekankan, yaitu: 1) Neraka adalah tempat penyiksaan dan kesengsaraan di alam akhirat, 2) Hidup di dunia hanyalah sementara namun akhirat adalah tempat yang kekal abadi. Di dalam Sastra Keagamaan juga terkandung Memento Mori yang artinya adalah “ingat bahwa kita pasti mati”, yang pada intinya menjelaskan bahwa hidup di dunia dan segala materi di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Selain dengan Memento Mori, Sastra Keagamaan bisa juga dianggap sebagai pelipur lara (penghibur hati yang duka). Acara ini ditutup dengan penyerahan cenderamata dan foto bersama.

Related Posts